Unsur Komite SMA Negeri 1 Mandrehe Bantah Tudingan Pungutan Kepada Siswa

Gemantararaya.com – Nias Barat
Dalam pantauan awak media Kepala SMA Negeri 1 Mandrehe Enonia Hia, M.Pd memberikan klarifikasi atas tudingan salah satu Oknum Komite sekolah di Media sosia akun Facebook, pernyataan oknum tersebut yang menyatakan bahwa “BERITA DUKA LAGI DI SMA NEG 1 MANDREHE…!

DI DUGA KASEK SMA NEG.1 MANDREHE MELAKUKAN PUNGUTAN LIAR KEPADA SELURUH SISWA/I YANG MAU TAMAT THN 2021 NI…SEBESAR Rp.100.000.- DENGAN MODUS SESUAI INFO…MAKAN BERSAMA DI PANTAI SEJUK…! ADA JUGA INFO YG MENGATAKAN UTK BIAYA BEROBAT SUAMI…!
BENERKAH YG DI BILANG KASEK SELAMA NI…KEPADA MASY MANDREHE DIA TAK TAKUT SIAPAPUN…? TERMASUK KASUS YG MASIH PROSES DI KEJAKSAAN GUSIT..? KECIL TU KATANYA…! KATA SUMBER YG TIDAK MAU DI SEBUT NAMANYA…!”

Enonia Hia, menjelaskan, Informasi yang diumbar oleh oknum melalui akun facebook Charlong tersebut tidak benar, sesungguhnya, itu merupakan pencemaran nama baik dan Fitnah kepada saya juga kepada keluarga saya, apalagi pada pernyataannya tersebut menunjukkan identitas sekolah, sehingga secara otomatis menjadi asumsi buruk terhadap nama baik sekolah.

Lanjut Kasek, akibat dari ujaran tersebut secara tidak langsung telah membuat resah dan rasa ketidak nyamanan diantara para guru dalam menjalankan aktifitas mereka, juga para orangtua siswa terkesan memicunya rasa curiga terhadap sesama utama kepada pihak sekolah, yang umbar Pernyataan tersebut salah seorang oknum komite (perwakilan orang tua) di sekolah yang saya pimpin.

Atas keadaan ini sehingga saya penting klarifikasi supaya tidak terjadi keresahan kepada orangtua siswa terkhusus untuk kelas XII yang mau tamat, dan berharap supaya oknum tersebut Sadar bahwa dia menyampaikan informasi Hoax, dan sampai saat ini saya sedang mikir mikir untuk menempuh jalur hukum atau tidak, tegas Kasek.

Ditempat terpisah sejumlah orangtua siswa yng enggan menyebut namanya, mengatakan “kami sudah mengetahui pernyataan tersebut di facebook setelah ada pertemuan antara otang tua siswa kelas XII dengan wali kelas dan pernyataan itu Tidak Benar ” memang Benar ada pertemuan orang tua siswa dan turut hadir wali kelas, membahas tentang acara syukuran kelulusan, dan Kepala sekolah tidak ada saat pertemua itu, sehingga hasil raoat tersebut kami orangtua siswa membentuk panitia syukuran, dan sepakat kami akan mengumpulkan uang sebesar Rp. 100.000/Siswa.

Syukuran itupun bukan usul dari kepala sekolah atau wali kelas tetapi itu atas permintaan Siswa yang ingin mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan, jadi, jika ada yang mengatakan kalau itu pungutan liar atau biaya makan dipantai apalagi untuk biaya berobat suami kepala sekolah itu tidak benar.

Pernyataan yang sama disampaikan Ama Stoper Gulo yang juga sebagai orangtua siswa dengan tegas mengatakan benar ada pengumpulan uang saat rapat kami dari orang tua siswa, tetapi uang itu untuk syukuran kelulusan, bukan untuk yang lain-lain, jika ada pernyataan yang lain lain dari oknum itu Tidak benar. karena kepala sekolah tidak mengijinkan untuk dilaksakannya acara syukuran siswa yang telah kami sepakati dan uang yang sempat kami kumpulkan pada saat itu telah dipulangkan sama kami oleh panitia, mengingat suasana pandemi covid-19 saat ini tegas kepala sekolah, sehingga kami merasa malu, karna sekolah telah mendidik anak anak kami dengan susah payah 3 tahun lamanya masa bubar begitu saja, tanpa acara syukuran dan pamitan terhadap gurunya, urai ama stoper dengan nada sedih.

Dipertegas perwakilan Komite Sekolah berinisial TH kepada awak media menyatakan bahwa Pernyataan dari oknum tersebut sama sekali Tidak Benar, sebagai Orangtua siswa seharusnya saya juga diminta oleh anak saya kalau sudah diminta uang dari sekolah, tetapi saya katakan dengan Tegas bahwa saya belum mendengar kalau pihak sekolah meminta uang untuk keperluan makan dipantai apalagi untuk biaya berobat suami kepala sekolah.

Pengacara kondang Muhammad Ali Harahap, SH dari Konggres Advocat Indonesia mengatakan, diera digital saat ini siapapun harus lebih berhati hati dalam menggunakan media sosial, bila tidak maka sangat fatal akibatnya, dengan adanya UU ITE saat ini hendaknya media sosial itu jangan digunakan sebagai ajang ujaran kebencian terhadap sesama karena foktor sentimen, dendam, dan sebagainya, sebab sangat memudahkan bagi yang merasa haknya dirugikan untuk menempuh jalur hukum positif.

TIM

By Geya