https://www.facebook.com/799489083553140/posts/1745761205592585/

Fenomena Tiga Besar Parpol di DKI Jakarta dari Hasil Survey Elektabilitas Q1-2021

Oleh: Andre Vincent Wenas

PDIP, PSI dan Golkar. Begitu hasil survey elektabilitas khusus di area DKI Jakarta yang sudah dilakukan oleh 2 lembaga survey (Nusantara Stategic Network/NSN dan Jakarta Research Centre/JRC).

Yang pertama oleh NSN pada 20-27 Februari 2021, lalu oleh JRC pada 1-10 April 2021. Metodenya sama, tatap muka langsung, multistage random sampling. Pertanyaannya pun sederhana, bila pemilu (pileg) diselenggarakan sekarang parpol mana yang akan dipilih?

NSN terhadap 400 responden (margin of error 4,9%, tingkat kepercayaan 95%), sementara JRC dengan 800 responden penduduk Jakarta (margin of error 3,4%, tingkat kepercayaan 95%).

Hasilnya?

Elektabilitas parpol menurut survey NSN: PDIP 21,3%, disusul PSI dengan tingkat elektabilitas 14,3%, lalu Golkar 9,8%.

Ranking berikutnya di survey NSN adalah: PKS 8,5%, Gerindra 7,0%, Demokrat 5,5%, NasDem 4,3%, PAN 3,5%, PKB 2,8%, dan PPP 2,0%, Partai Ummat 1,3%, Perindo 1,0%, Partai Berkarya 0,8%, Hanura 0,5%, dan Gelora 0,3%. Sisanya tidak dapat dukungan dan ada 17,1% tidak tahu/tidak menjawab.

Sementara menurut survey JRC, elektabilitas PDIP mencapai 20,09%, PSI mencapai 15,4% dan Golkar dengan 8,3%.
Berikutnya di hasil survey JRC adalah PKS 7,6%, Demokrat 7,1%. Gerindra 5,6%, NasDem 6,4%, PKB 2,9%, Ummat 2,1%, PAN 1,9%, PPP 1,4%, Perindo 0,9%, Berkarya 0,6%, Hanura 0,3%, dan Gelora 0,1%. Sisanya tidak dapat dukungan, dan yang tidak tahu/tidak jawab sekitar 19,31%.

Sebagai informasi, komposisi kursi parpol di DPRD DKI Jakarta saat ini adalah: PDIP 25 kursi (23,58%), Gerindra 19 (17,92%), PKS 16 (15,09%), Demokrat 10 (9,43%), PAN 9 (8,49), PSI 8 (7,54%), NasDem 7 (6,60%), PKB 5 (4,71%), Golkar 6 (5,66%), dan PPP 1 kursi (0,94%), total 106 kursi (100%).

Sebelumnya posisi tiga besar untuk DKI Jakarta adalah: PDIP, Gerindra dan PKS. Jadi dari hasil survey kedua lembaga itu posisi Gerindra dan PKS telah tergeser oleh PSI dan Golkar.

Mengapa Gerindra dan PKS tergeser oleh PSI dan Golkar? Sementara PDIP masih bertahan di posisi teratas walau persentasenya menurun.

Ada banyak perspektif yang dikemukakan para pengamat. Seperti kita ketahui, Gerindra dan PKS adalah partai pengusung Anies-Sandi dalam Pilkada 2017 lalu. bersama PAN, Perindo dan Partai Idaman sebagai parpol pendukung Anies-Sandi.

Sementara lawan Anies-Sandi dalam putaran kedua waktu itu (Ahok-Djarot) diusung oleh PDIP, Golkar, Hanura dan NasDem. Serta partai pendukungnya PPP, PKB, PKPI dan PSI.

Dari temuan survei lainnya yang juga dilakukan oleh Jakarta Research Center (JRC) tentang tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Anies Baswedan ternyata menunjukan bahwa 53,0% warga Jakarta tidak puas. Sedangkan yang puas hanya mencapai 38,9%. Serta sisanya 8,1% tidak tahu/tidak menjawab.

Ini rupanya diduga berkorelasi positif terhadap menurunnya elektabilitas dari parpol yang dulu mengusung serta mendukung Anies Baswedan, yaitu Gerindra dan PKS.

Sementara Perindo dan Partai Ummat sebagai pengusung Anies-Sandi memang sudah tidak terbilang lantaran selama ini tidak pernah bersuara apa-apa. Sehingga partisipasi politiknya boleh dibilang nihil kalau tidak mau dibilang cuma sekedar partai oportunis.

Sementara itu Partai Golkar sebagai parpol paling senior dan paling berpengalaman makan asam garam dalam kancah politik memang boleh dibilang tangguh juga.

Setelah beberapa kali mengalami prahara internal dalam level petingginya rupanya Golkar cukup trengginas dalam adaptasi politiknya.

Sementara ini masih tercium persaingan (mungkin boleh juga dibilang perseteruan) antara Ketum Airlangga Hartarto dengan Bambang Susetyo yang amat berambisi untuk naik ke kursi RI-1.

Ada temuan menarik yang dilakukan Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) tentang tokoh parpol yang paling cocok menjadi presiden tahun 2024.

Hasilnya menyebutkan bahwa Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar Airlangga Hartarto elektabilitasnya tertinggi, 17,6%!

Disusul Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto 15,6%, kemudian Sandiaga Uno 13,7%. Selanjutnya ada Puan Maharani dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar masing-masing 9,6%. Ada juga Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 9,0%. Presiden PKS Ahmad Syaikhu 8,3%, Jusuf Kalla 5,9%, Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan politisi Nasdem Ahmad Syahroni masing-masing 4,8%.

Survei Tokoh Parpol oleh Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) ini dilakukan terhadap 1260 responden di 34 provinsi pada 29 Maret – 4 April 2021.

Apakah ini juga yang menyebabkan elektabilitas Golkar di DKI Jakarta ikut terdongkrak? Ya bisa saja, kemungkinan itu tidak tertutup. Dalam politik semua bisa jadi mungkin lantaran semua bisa pula saling berkorelasi, baik positif maupun negatif.

Dan rupanya persaingan internal antara Airlangga Hartarto dengan Bambang Soesatyo (Ketua MPR) dipandang sehat-sehat saja dalam konteks demokrasi oleh para konstituen. Kemungkinan besar juga Golkar tidak lagi dipandang sebagai partai dinasti atau partai keluarga pasca rejim orba tumbang.

Singkat kata, kelihaian Golkar sebagai organisasi atau parpol memang mesti diakui bahwa kelasnya cukup tinggi. Golkar boleh dibilang “suhu” dalam dunia persilatan politik nasional.

Sementara PSI sebagai partai paling muda ternyata bisa juga menohok terus ke papan atas di kancah perpolitikan ibu kota. Parpol ini dipandang sebagai suatu fenomena disruptif. Bikin kacao para kecoa politik maupun para anteknya.

Parpol ini seperti garam, walau kecil tapi bisa memberi rasa gurih. Juga garam itu bisa bikin lintah yang selama ini menghisap darah (uang) rakyat mulai gerah dan meleleh.

Intinya, PSI dipandang parpol progresif yang mampu menggoyang zona nyaman para penyamun politik yang selama ini dengan rakus merampoki APBD (uang rakyat).

Adalah realitas politik yang terbantahkan pula bahwa PSI adalah parpol yang paling konsisten dalam mengritisi kebijakan eksekutif di Jakarta. Berbeda dengan beberapa tokoh parpol lain yang hanya dibilang hanya koar-koar tanpa komitmen yang jelas.

Begitu mereka diajak oleh PSI untuk menginterpelasi Gubernur Anies, semua malah mingkem. Pura-pura budeg dan malah meninggalkan PSI sendirian, bahkan walk-out saat PSI menyampaikan pandangannya di parlemen.

Ada pula tokoh parpol lain yang baru jadi kritis (atau cuma acting seolah kritis) terhadap kebijakan Anies hanya pada saat-saat masa pemerintahannya sudah hampir habis.

Anies berkuasa sejak Oktober 2017 dan akan berakhir Oktober 2022, tahun depan. Jadi mereka seolah hanya ingin jadi pahlawan, yang sayangnya malah tampil sebagai pahlawan kesiangan.

Tentu saja fenomena konyol seperti ini terbaca oleh publik Jakarta yang relatif cerdas politik. Tak gampang lagi dikelabui dengan lagak munafik parpol yang semasa Oktober 2017 – Desember 2019 (periode DPRD DKI Jakarta pra-pileg 2019) yang faktanya telah mengakomodir semua anggaran (yang diduga awur-awuran) itu.

Baru sejak fraksi PSI bercokol di parlemen Jakarta semua jadi “rame” lantaran “cerewet”nya para legislator PSI di Kebon Sirih dari sejak awal sampai sekarang. Daya kritis yang konsisten dari PSI ini rupanya mendapat sambutan positif dari warga Jakarta.

Ingat saja, mulai dari (rencana atau rancangan) bancakan lewat Lem Aibon, Komputer, Pasir, Trotoar, Formula-E, Pohon Mahoni, Lahan Kuburan, Damkar, sampai proyek gagal Rusun DP 0 Rupiah, Mengecat Atap Rumah dan Kolong Jalan Layang, banjir, sampai Monumen-monumen yang tidak berfaedah (bambu getah-getih, batu gabion dan sekarang ada lagi monumen sepeda abstrak).

Semua gestur politik PSI di parlemen Jakarta serta kader-kadernya yang aktif serta kritis ini rupanya dipandang sebagai gestur keberpihakan pada rakyat yang orisinil, genuine dan nyata bisa dirasakan oleh konstituen ibu kota.
Sehingga tak heran bila elektabilitas PSI di Jakarta bisa meroket ke posisi tiga besar, bahkan di atas Golkar. Istilahnya, PSI itu “from zero to hero”!

Sementara itu PDIP tetap mempunyai keunggulan, sebagai parpol pengusung utama Jokowi-Amin maupun dampak dari ‘coat-tail effect’ sebagai pemenang pemilu (pileg) 2019.

Hanya saja yang perlu dicermati lebih dalam lagi adalah fenomena keunggulan hasil survey PDIP, untuk wilayah DKI Jakarta, yang mencapai 21,3% (versi NSN) dan 20,09% (versi JRC) itu rupanya menurun bila dibandingkan dengan hasil Pileg 2019 lalu yang sebesar 23,5%.

Seperti kita pahami bersama, konstelasi elektabilitas parpol itu bisa sangat dinamis, tak ada yang tetap sama dari satu periode ke periode berikutnya.

Itu semua sangat tergantung berbagai faktor, misalnya saja soal kiprah para kadernya selama ini. Juga sikap-sikap politik resmi parpol terhadap berbagai fenomena sosial-ekonomi-politik-hukum yang terjadi di tengah masyarakat.
Perilaku politik (political behavior) seperti ini tentu bakal mendapat penilaian sendiri dari masyarakat (konstituen) parpol yang ada di segmen swingers, massa-mengambang maupun pendatang (pemilih) baru. Kalau segmen loyalis (fanatik) kemungkinan akan lebih stabil.

Ini tentu perlu disikapi serius oleh para politisi PDIP untuk bebenah diri terus menerus. Agar klaim politiknya sebagai partainya wong cilik benar-benar begitu pada kenyataannya. Bukannya malah semakin dipersepsi sebagai partai dinasti atau partai perkoncoan yang semakin lama terkesan semakin elitis.

Kasus Harun Masiku dikatakan masih menjadi ‘batu-sandungan’ bagi PDIP, ini mesti dituntaskan segera sebelum tahun 2024. Bila semakin dipendam, bau busuknya malah bisa menyebar kemana-mana.

Akhirnya, kita menganggap survey elektabilitas parpol di wilayah DKI Jakarta ini menjadi penting untuk kita cermati bersama. Lantaran DKI Jakarta boleh dibilang adalah etalase politik nasional.

Apa yang terjadi di Jakarta kerap menjadi spot-light wacana politik nasional pula, dan bahkan bisa jadi referensi (acuan) bagi konstituen di daerah lain.

Apalagi di era internet seperti sekarang ini, berita dan wacana publik di ibu kota bisa merembet cepat, menembus dinding-dinding penyekat, hampir tanpa batas ke seluruh Nusantara.

“The truth can’t remain hidden for long when so many windows remain opened for an exchange of information and communication in an internet era.” – Anuj Somany.

17/04/2021
Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB).

By Geya